Kucing Susiku Pergi


Kisah nyata ini diceritakan oleh Dhenok Astuti di blognya (dhenokhastuti.wordpress.com). Kisah ini menguraikan kesedihannya saat salah satu kucingnya kembali kepada Pencipta-Nya. Bagaimana cerita lebih lengkapnya, simak ya?

Aku bermotor dalam isak tertahan. Tak hanya sekali aku menjumpai anak meongku dalam keadaan kritis. Tapi toh aku tak pernah berhenti berharap akan datangnya sebuah mujizat.
Sore tadi tiba-tiba kulihat ia sudah bersama saudara-saudara meongnya, duduk-duduk di halaman. Seharian kemarin dia menghilang. Padahal aku masih memberinya obat, vitamin, dan menyuapinya dengan makanan lunak. Tubuhnya pun lemas. Sudah beberapa hari terakhir dia mengalami flu. Hingga 2 hari kemarin enggan makan. Kuangkat dia dan kugendong ke dalam rumah. Tubuh kurusnya tampak kotor. Main kemana saja kamu seharian, pus? Dia hanya menatapiku dengan tatapan kosong. Kosong? Aku terkesiap. Ini kondisi yang sama sekali tidak baik. Kubersihkan kotoran di mulut dan hidungnya dengan lap basah. Kucoba suapi dia dengan madu-telor. Hanya lima suap, dia menolak. Ku-sms dokter langganan yang rumahnya kebetulan di komplek sebelah. “Sedang di Cimahi, tapi ada istri saya di rumah.” Sempat panik. Cash flow beberapa bulan terakhir kacau. Aku hanya pegang uang 20 ribu di tangan. Pergi ke tetangga sebelah, pinjam 50 ribu. Is that worth it? Di tengah kekacauan finansialku sekarang ini? Barangkali pertanyaan itu muncul dari orang yang bukan penyayang binatang. Tapi jangan pernah tanyakan soal ‘kelayakan’ dengan membandingkan materi dan rasa sayang. Karena itu sama sekali bukan hal yang bisa dibandingkan.

Maka, lepas Magrib tadi, aku bergegas membawanya menuju komplek sebelah. Tak sabar melewati jalanan berbatu yang tak kunjung usai perbaikan. Istri dokter yang memang juga dokter hewan itu memeriksa Susi kecilku, segera setelah kami sampai. “Sudah pucat, bu. Saya kasih infus ya.” Ada pesimis di wajahnya. Aku tau. Tapi aku -dan aku yakin siapapun yang normal- dalam kondisi seperti ini akan berharap bahkan ‘membeli’ kehidupan kalau bisa. Rupanya cairan infus kosong. Dokter memberikan 3 injeksi dan menyarankan untuk memberikan cairan gula merah sebagai pengganti infus. Sedikit-sedikit tapi sering. Pesan tambahan: “Pisahkan dari yang lain ya. Kalau mati sebaiknya langsung dikubur dan bekas-bekasnya segera dicuci.” Sesungguhnya aku pun sudah tau apa yang harus kulakukan ketika kematian itu menjemput Susi kecil. Tapi penegasan itu memerihkan telinga. Baiklah, tak mengapa. Itu kewajiban profesinya. Memberikan informasi tentang kemungkinan dampak terburuknya.

Akhirnya Susi kecil kubawa kembali pulang. Sebelumnya aku musti minta maaf ke dokter, karena ternyata uangku tak cukup. Masih kurang 10 ribu. Dimaafkan. Ini kali kedua aku membawa Susi ke dokter. Dua bulan sebelumnya ia sakit cacingan parah. Perutnya buncit. Setelah 5 hari berobat, sembuh. Setelahnya tidak ada penyakit yang terlalu mengkhawatirkan. Sempat mengalami flu ringan, tapi segera sembuh dengan vitamin saja. Makannya bagus, segala dimakan. Meski badannya tidak terlalu besar untuk umurnya. Bulan ini umur Susi 6 bulan. Pada umur sebulan dia kehilangan susu emaknya yang ikut program setril. Sang emak hanya menemaninya 2-3 bulan berikutnya. Lalu pergi berkelana, tak pernah lagi menemui anak-anaknya. Tak lama kemudian adik hitamnya meninggal. Distemper. Hanya Bembi, kakaknya, yang tertinggal dan tentunya saudara-saudara meongnya yang lain.

Ya, kami kemudian pulang. Dalam perjalanan, di dalam tas di belakang punggungku, Susi hanya diam. Tak bergerak, tak mengeong. Sampai di rumah kutidurkan dia di bawah lampu hangat. Dengan pipet kuberi dia cairan gula merah. Tubuhnya terkulai tak berdaya. Hanya beberapa kali saja kulihat dia menggeliat lemah.

Lalu serangan itu datang. Dia mengerang lirih. Tubuhnya menyentak. Berontak ingin keluar. Sempat kuberi lagi dia minum. Menenangkannya kembali di bawah lampu. Hingga datang lagi serangan berikutnya. Aku tau, aku sudah kehilangan harapan. Tapi aku masih memintanya bertahan. Mengusap-usap tubuhnya yang berulang kali menegang agar tenang. Ia pun mungkin belum ingin pergi. Barangkali ia juga masih menyimpan harap bisa bermain kembali bersama Bembi. Saling lempar kecoa, berburu kadal, dan bikin riuh eternit rumah tetangga. Tapi tampaknya hidup bukan lagi miliknya. Aku pun menyerah. Pergilah, sayang, kalau itu membuatmu lebih baik. Tubuh kecil berbulu itu pun lalu menegang dengan kuat. Dibarengi dengan cairan yang dimuntahkannya dari mulutnya. Sebentar kemudian kepalanya lunglai, bersandar di tepian. Waktunya telah tiba. Susi kecilku pergi untuk selamanya.
Sempat kutelusuri jejak nadinya. Sedikit berharap denyut itu kembali ada. Dan serangan tadi hanya pertanda sang penyakit telah pergi. Tapi tidak. Susi meong kecilku memang betul-betul pergi.

Baiklah, sayang…baiklah. Ibu ikhlas. Kita memang bisa berharap akan kehidupan. Tapi toh kematian adalah keniscayaan.
Selamat jalan, Susi kecil.. Rainbow bridge telah menanti. Selamat bergembira dalam perjumpaan dengan kawan-kawan sebaya.
*ah, meong…tak akan kulihat lagi tingkah kocakmu*


No comments:

Post a Comment

Post a Comment